Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional
Relevansi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan Tujuan Pendidikan
Tujuan merupakan
sesuatu hal yang hendak dicapai sesuai dengan harapan yang telah ditetapkan.
Tujuan diibaratkan sebagai tempat bermuaranya sebuah harapan dan proses panjang
yang telah dilalui. Demikian juga, dalam pendidikan untuk mencetak generasi
penerus bangsa yang berkarakter tentu melalui proses yang amat panjang dan
harus berjalan dengan baik sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Tujuan pendidikan yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Pembahasan
Peran sebagai pendidik berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara peran
kita sebagai pendidik atau guru kita perlu terus belajar agar bisa
menghantarkan murid-murid untuk berdaya dan menjadi manusia Merdeka dengan
kesadaran untuk terus belajar secara mandiri kita telah mengatur diri sendiri
nah ini adalah bagian dari perjalanan kita menjadi manusia merdeka.
Ki Hajar Dewantara dalam dasar-dasar
pendidikan Hai maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat
salah satu langkah awal kita sebagai pendidik adalah bagaimana memaknai dan
menghayati pribadi kita sebagai manusia yang merdeka untuk terus belajar
murid-murid kita kini memiliki cara belajar yang sungguh berbeda dengan kita
dahulu mereka sangat fasih dan teknologi menjadikan internet sebagai salah satu
sumber belajar utama mereka bisa dengan cepat mencari dan mengkonfirmasi
pengetahuan dengan teknologi dalam genggaman mereka bisa menjangkau pengetahuan
sekalipun tanpa kita beri.
Ki Hajar Dewantara pernah
menyampaikan pendidik itu menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan
kodak anak bukan dasarnya. Apa peran sebagai pendidik untuk dapat menuntun kekuatan
kodrat dari murid-murid kita bagaimana kita bisa menjaga hidup dan tumbuhnya
kekuatan kodak murid murid kita belajar.
Ki
Hadjar Dewantara, mengutarakan bahwa penguasa bangsa belanda di Indonesia tidak
memperhatikan soal pendidikan kebudayaan, mereka mementingkan pengajaran yang
intelektuallitas serta materistis karena pendidikan berupa pendidikan intelek.
Karena anak dan pemuda mengecap suasana kultural tetap tetap mendapatkan
pengaruh dari segala apa yang terus hidup di dalam berbagai tradisi kebudayaan,
sekalipun dalam lapangan ini belum ada pendidikan yang modern. Kemudian pendidikan dan pengajaran secara
Barat tidak boleh mutlak kita anggap jelek. Banyak ilmu pengetahuan yang harus
kita kejar, sekalipun dengan melalui sekolah-sekolah Barat. Kita mengerti,
bahwa juga di Indonesia kini masih banyak pendidikan dan pengajaran yang
dilakukan secara sistem Barat. janganlah sekali-kali orang mengira, bahwa kita
harus menolak pengaruhpengaruh kultural dari dunia luar umumnya, dunia Barat
khususnya. Jangan sekali-kali! Sebaliknya janganlah kita memasukan bentuk, isi
dan irama dari luar yang tidak perlu. Dalam hal ini kita wajib mewujudkan
kepada dunia, bahwa kita cukup bebas dan merdeka serta berdaulat, untuk memilih
sendiri segala apa yang kita perlukan. Indonesia bukan Nederland, bukan
Inggris, bukan Amerika. Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Makassar,
Medan, Padang. bukan Amsterdam, Leiden, Utrecht, Groningen, bukan juga London,
Cambridge, bukan juga kota-kota universitas Amerika.
Sedikit
kutipan dari podato Ki
Hadjar Dewantara yang padahami bahwasannya saat Indonesia masih
dikuasai oleh belanda sistem pendidikan di Indonesia mengembangkan perkembangan
intelektualitas dari anak yang belajar, sendangkan pendidikan kebudaayn
dianggap tidak penting melainkan itu akan mempengaruhi dari kulitas anak, akan
tetapi pengaruh dari tradisi kebudayaan itu mesih berpengaruh dalam kehidupan
dan mengecap kultural atau sudah turunan. Dari sistem pendidikan belanda banyak
mencetak pemimpin yang dianggap bisa menjadi orang sukses. Selain itu Pada zaman beralihnya V.O.C
(Vereenigde Oostindische Compagnie) menjadi pemerintah “Hindia Belanda”, maka
sebenarnya sekali-kali tidak ada perubahan sikap dan tindakan terhadap segala
urusan tanah air kita. Pada hakekatnya pemerintah HB (Hindia Belanda) merupakan
konsolidasi dari segala apa yang tadinya dilakukan oleh VOC tersebut. bangsa Belanda menganggap tanah air
kita semata-mata sebagai objek perdagangan. Mencari dan mendapatkan keuntungan
materiil yang sebesar-besarnya itulah maksud dan tujuan dari segala usahanya
dalam segala lapangan. Tidak lebih dan tidak kurang. Pendidikan dan pengajaran
diserahkan sama sekali kepada para pendeta Kristen.
Sedangkan
pendidikan di Indonesia pada zaman etik kebangunan nasional,sesudah aliran Ethische politiek atau Etishche
koers timbul, pada permulaan abad ke-20 (dan sebenarnya sebagai akibat
“Kebangunan Nasional” pada permulaan abad ke-20). Haluan tadi boleh digambarkan
sebagai haluan “kolonial lunak”, yang dalam sistem pendidikannya tetap
menunjukan sifat “intelektualistis”, pula “individualistis” dan
“materialistis”. Sekali-kali tidak mengandung cita-cita kebudayaan. Baru pada tahun 1920 timbullah
cita-cita baru, yang menghendaki perubahan radikal dalam lapangan pendidikan
dan pengajaran. Cita-cita baru tadi seakan-akan merupakan gabungan kesadaran
kultural dan kebangkitan politik. Idam-idaman kemerdekaan nusa dan bangsa
sebagai jaminan kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan bangsa, itulah pokok
sistem pendidikan dan pengajaran, yang pada tahun 1922 dapat tercipta oleh
“Tamansiswa” di Yogyakarta.
Perkembangan
dari pendidikan Indonesia mulai ada perubahan sejak tahu 1920 dimana ada
keinginan untuk membuat cita – cita sendiri tetap mengadopsi sistem dari
belanda akan tetapi merubah bebrapa aspek yang disesuaikan dengan kebutuhan
mulai dari pendidikan kebudayaan, pendidikan politik dan lainya.
Sebagai seorang pendidik tentunya akan berupaya
untuk menanamkan disiplin positif yang positif ini kepada anak didik, maka ada
beberapa hal yang dapat dilakukan agar budaya positif ini dapat diwujudkan di
sekolah yaitu :
a. Disiplin Positif
Dalam menanamkan disiplin positif kepada anak
sebaiknya dimulai dari diri anak sendiri dengan pembiasaan disiplin diri dan
disiplin waktu. Sebagai seorang guru yang diharapkan menjadi pemimpin
pembelajaran dapat memberikan keteladanan terlebih dahulu kepada anak sehingga
dengan sendirinya anak menyadari dan dapat membiasakan diri untuk dapat
berdisiplin diri maupun disiplin waktu.
b. Posisi Kontrol Guru
Merupakan suatu posisi yang dapat digunakan
oleh guru dalam memantau budaya positif terhadap anak, khususnya dalam
penanaman disiplin apakah sudah sesuai/efektif atau belum serta menjadi
referensi guru dalam menyelesaikan masalah yang muncul di sekolah. Posisi
kontrol guru antara lain sebagi Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman,
Pemantau dan Manajer. Idealnya sebagai guru dapat menenmpatkan diri di posisi
kontrol sebagai manajer dalam menyelesaikan permaslahan di sekolah.
c. Kebutuhan Dasar Manusia
Sebagai guru dan murid merupakan pribadi yang
unik dan tentunya sebagai manusia, memiliki kebutuhan dasar yang harus
terpenuhi. Kita menyadari bahwa apabila salah satu kebutuhan tidak terpenuhi
maka dapat saja menjadi suatu konflik dan menimbulkan permasalahan. Kebutuhan
dasar manusia diantaranya adalah bertahan hidup, cinta dan kasih sayang,
penguasaan, kebebasan dan kesenangan.
d. Keyakian Kelas
Keyakinan Kelas hampir sama dengan kesefakatan
kelas atau peraturan kelas yang dibuat di kelas maupun di sekolah. Hanya saja
dalam penyusunan keyakinan kelas perlu mengutamakan kolaborasi dengan siswa
sehingga keyakinan kelas yang dibuat bersama dapat dilaksanakan secara
konsisten dan sesuai dengan komitmen bersama.
e. Segitiga Restitusi
Segitiga Restitusi ini merupakan proses
menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan, sehingga anak dapat
kembali pada kelompoknya dengan karakter yang lebih kuat dari sebelumnya.
Penerapan segitiga restitusi diawali dengan validasi tindakan yang salah,
Menstabilkan identitas dan menanyakan keyakinan kelas.
Komentar
Posting Komentar